Kamis, 19 November 2015

Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck








Judul Film                   : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Sutradara                     : Sunil Soraya
Tanggal Dirilis            : 19 Desember 2013
Genre                           : Roman
Pemeran Utama           : Pevita Pearce sebagai "Rangkayo" Hayati
  Herjunot Ali sebagai Zainuddin
  Reza Rahadian sebagai Aziz
Pemeran Pendukung   : Randy Danistha sebagai Muluk
  Arzetti Bilbina sebagai Ibu Muluk
  Kevin Andrean sebagai Sophian
  Jajang C. Noer sebagai Mande Jamilah
  Niniek L. Karim sebagai Mak Base
  Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto sebagai Datuk Hayati
  Gesya Shandy sebagai Khadijah
  Femmy Prety
  Dewi Agustin
Penulis Asli                 : Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)
Durasi                          : 120 menit
Studio                          : Soraya Intercine Films



Sinopsis

Nusantara 1930, dari tanah kelahirannya Makasar, Zainuddin berlayar menuju tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Diantara keindahan ranah negeri Minangkabau ia bertemu Hayati, gadis cantik jelita, bunga di persukuannya. Kedua muda mudi itu jatuh cinta. Apa daya adat dan istiadat yang kuat meruntuhkan cinta suci mereka berdua. Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara Hayati perempuan Minang keturunan bangsawan.

Lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya berbangsa yang ingin menyuntingnya. Perkawinan harta dan kecantikan mematahkan cinta suci anak manusia. Zainuddin pun memutuskan untuk berjuang, pergi dari ranah minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainudin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya mashyur dan diterima masyarakat seluruh Nusantara.

Tetapi sebuah kenyataan kembali datang kepada diri seorang Zainuddin, di tengah gelimang harta dan kemashyurannya. Dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati, kali ini bersama Aziz, suaminya. Perkawinan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang waktu. Pada akhirnya kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck.



Kelebihan

Film ini menyajikan kisah yang diadaptasi dari novel angkatan klasik yang dikemas dengan menarik dan tetap mempertahankan unsur-unsur ethnic yang terkandung, seperti dialog antartokoh yang menggunakan bahasa daerah. Terutama Zainuddin yang berlogat Bugis. Film ini juga menyajikan suasana khas tahun 30-an dengan menggunakan pemeran figuran asing dan didukung dengan properti seperti uang, kendaraan, dan ejaan ala tahun 30-an.  Unsur komedi dan humor juga sedikit ditaburkan pada beberapa adegan sehingga penonton tidak bosan.



Kekurangan

Penggunaan logat asli Bugis yang diperankan oleh Zainuddin memang mempertahankan ciri ethnic yang terkandung, hanya saja logat yang diucapkan terdengar kurang natural dan malah terkesan lucu. Bahkan di saat-saat sedih pun, penonton menjadi tertawa ketika mendengar logat Zainuddin. Selebihnya  sudah baik dan hampir sempurna.



Kesimpulan

Film-film sejenis ini yang diadaptasi dari novel roman angkatan 20-an, 30-an, dan angkatan lainnya memang sebaiknya diproduksi. Apalagi dengan diadaptasinya roman-roman klasik menjadi film dapat menambah wawasan masyarakat Indonesia tentang sastra Indonesia berupa roman-roman klasik – yang terkesan membosankan untuk dibaca.  Dengan dibuatnya menjadi film, justru akan lebih menarik minat masyarakat untuk mengetahui sastra Indonesia tanpa harus membaca buku roman-roman klasik yang terkadang terkendala akan bahasa dan ejaan yang tetap dipertahankan pada novel-novel klasik.


Penilaian Film


Tenggelamnya Kapal Van der wick adalah film-film yang bergenre roman  dimana sejenis ini yang diadaptasi dari novel roman angkatan 20-an, 30-an, dan angkatan lainnya memang harusnya di produksi. Film ini mengisahkan tentang cinta yang tak sampai disebabkan oleh perbadaan adat istiadat dan tidak direstui oleh orang tua. Penilaian  dari cerita ini banyak pesan moral yang tercantum, diantaranya jangan membedakan tentang adat dan budaya pada masing-masing daerah.

Kamis, 29 Oktober 2015

MENGUNJUNGI MUSEUM ANGKUT

 Senin pagi tanggal 2 Agustus 2015 saya dan teman teman mengunjungi salah satu tempat yang terkenal di daerah kota Batu,Malang.Perjalanan saya dimulai dari Gondanglegi menuju museum Angkut dengan menggunakan kendaraan minibus yang memerlukan waktu tempuh sekitar 2jam. Dalam perjalan kami melihat pohon tebu yang begitu tinggi dan siap dipanen,lalu kami terjebak macet dikarenakan banyaknya kendaraaan besar melintas begitu lambat. kemudian kami menyempatkan ke supermarket untuk perbekalan dijalan dan juga dalam perjalanan kami berfoto selfie.

Tak terasa akhirnya kami pun tiba di Museum Angkut.kami pun turun dari kendaraan  untuk menuju pintu masuk museum itu,lalu kami membeli tiket dengan harga cukup mahal yaitu Rp60.000 dan diberikanlah sebuah gelang sebagai bukti masuk,kami melihat bermacam-macam kendaraan yang langka.dan mempunyai nilai jual yang tinggi.Disini saya mau memberikan foto kendaraan yg di museumkan.




 Setelah kami lelah mengelilingi museum angkut ini kami memutuskan untuk mencari  makan dan menuju pulang,Begitulah akhir perjalanan yang tak terlupakan dan pengalaman pertama saya jalan-jalan di kota Batu.Sekian dari akhir cerita yg dapat saya paparkan.

Jenis-Jenis Paragraf : DESKRIPSI

Jenis-jenis paragraf
Dalam tata bahasa merupakan hasil dari pikiran pokok dari sebuah karangan yang selanjutnya dikembangkan menjadi karya tulis yang baik. Macam-macam paragraf yang diketahui ada 5 yaitu:
  1. Paragraf Argumentasi
  2. Paragraf Deskripsi
  3. Paragraf Eksposisi
  4. Paragraf Persuasi
  5. Paragraf Naratif
  Paragraf deskripsi adalah sebuah paragraf yang menggambarkan atau melukiskan sebuah objek tertentu melalui kata-kata yang bisa merangsang panca indera sehingga pembaca seolah-olah melihat atau merasakan sendiri benda objek yang dideskripsikan oleh penulis. Berikut ciri-cirinya: 
1. Menggambarkan atau melukiskan suatu objek seperti benda, tempat, atau suasana tertentu.
2. Melibatkan panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan).
3. Menjelaskan ciri-ciri fisik dan sifat objek tertentu seperti warna, ukuran, bentuk, dan                kepribadian secara terperinci.
4. Banyak ditemukan kata-kata atau frase yang bermakna keadaan atau kata sifat.

Contoh :
Sebuah rumah yang terletak di daerah jakarta Timur yang berukuran 50m X 50m itu sangat strategis di tempati. Warna dinding rumahnya yang berwarna biru muda dan banyak tumbuhan di samping rumahnya yang begitu nyaman dan indah dilihatnya. Terdapat 3 buah sofa empuk berwarna coklat dan 1 buah meja di ruang tengah. Sebuah tv yang berukuran 42inch diruang keluarga yang memberikan kesan kekeluargaan.

Jenis-Jenis Paragraf : ARGUMENTASI

Jenis-jenis paragraf
Dalam tata bahasa merupakan hasil dari pikiran pokok dari sebuah karangan yang selanjutnya dikembangkan menjadi karya tulis yang baik. Macam-macam paragraf yang diketahui ada 5 yaitu:
  1. Paragraf Argumentasi
  2. Paragraf Deskripsi
  3. Paragraf Eksposisi
  4. Paragraf Persuasi
  5. Paragraf Naratif
  Paragraf argumentasi adalah suatu paragraf yang mengandung pendapat – pendapat pribadi penulisnya tentang suatu permasalah yang terjadi disertai dengan data atu bukti untuk memperkuat pendapat tersebut. Berikut ciri-cirinya:

1. Mengemukakan ide tentang suatu permasalahan yang sedang hangat – hangatnya terjadi di        dalam masyarakat.
2. Berisi tentang pendapat – pendapat penulis yang dijabarkan dengan sangat jelas dan disertai      dengan bukti berupa data, fakta, maupun contoh.
3. Pendapat – pendapat yang disampaikan harus jernih, sehat, kritis atau logis.
4. Data – data yang disajikan berupa hasil dari sebuah observasi atau pengamatan. Dengan kata     lain, bukan data asal – asalan.
5. Menyajikan kesimpulan di akhir paragraf berupa inti dari permasalahan tersebut.

Contohnya :
Narkoba mengandung beberapa zat – zat yang sangat berbahaya bagi tubuh. Salah satunya adalah zat addiktif. zat inilah yang akan menggangu sistem saraf kita. Zat addiktif yang telah masuk ke dalam tubuh akan menuntut otak untuk terus mengkonsumsinya. Akibatnya, para pengkonsumsi narkoba akan menjadi sakaw dan dapat menggunakan secara terus-menerus

Jenis-Jenis Paragraf : PERSUASI

Jenis-jenis paragraf
Dalam tata bahasa merupakan hasil dari pikiran pokok dari sebuah karangan yang selanjutnya dikembangkan menjadi karya tulis yang baik. Macam-macam paragraf yang diketahui ada 5 yaitu:
  1. Paragraf Argumentasi
  2. Paragraf Deskripsi
  3. Paragraf Eksposisi
  4. Paragraf Persuasi
  5. Paragraf Naratif
   Pengertian paragraf persuasi adalah paragraf yang bertujuan untuk mempengaruhi, mengimbau, membujuk, atau merayu pembaca sehingga terpengaruh untuk mengikuti keinginan penulis. Berikut ciri-cirinya :

1. Merupakan jenis paragraf campuran yang memiliki dua kalimat utama pada bagian awal dan akhir         paragraf.
2. Paragraf persuasi bersifat mengajak pembacanya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh penulis     di dalam tulisannya.
3. Agar pembaca mau mengikuti apa yang dikatakan oleh penulisnya, paragraf ini menyajikan alasan –     alasan pendukung berupa fakta, maupun opini yang meyakinkan.

Contohnya : 

Sebentar lagi pemilihan umum (Pemilu) tiba. Ayo gunakan hak pilih kita untuk memilih calon presiden yang terbaik untuk Negara ini. Ingat, masa depan Negara kita 5 tahun ke depan bergantung dengan pilihan Anda pada tangga 1 juni 2015. Jangan sampai Anda golput atau hak suara Anda akan disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, marilah ajak semua saudara, teman adik dan kakak untuk datang ke TPU untuk menggunakan hak pilihnya. Ingat jadilah pemilih yang baik.


Jumat, 19 Juni 2015

PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI

Penyelesaian Sengketa Ekonomi

Pengertian Sengketa

Pengertian sengketa dalam kamus Bahasa Indonesia, berarti pertentangan atau konflik, Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan antara orang-orang, kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi terhadap satu objek permasalahan. 
Sengketa internasional adalah suatu perselisihan antara subjek-subjek hukum internasional mengenai fakta, hukum atau politik dimana tuntutan atau pernyataan satu pihak ditolak, dituntut balik atau diingkari oleh pihak lainnya.
Istilah “sengketa internasional” (International disputes) mencakup bukan saja sengketa-sengketa antara Negara-negara, melainkan juga kasus-kasus lain yang berada dalam lingkup pengaturan internasional, yakni beberapa kategori sengketa tertentu antara Negara disatu pihak dan individu-individu, badan-badan korporasi serta badan-badan bukan Negara di pihak lain.
Persengketaan bisa terjadi karena :
1. Kesalahpahaman tentang suatu hal.
2. Salah satu pihak sengaja melanggar hak / kepentingan negara lain.
3. Dua negara berselisih pendirian tentang suatu hal.
4. Pelanggaran hukum / perjanjian internasional.
Cara - Cara Pentelesaian Sengketa 

Penyelesaian sengketa secara damai bertujuan untuk mencegah dan mengindarkan kekerasan atau peperangan dalam suatu persengketaan antar negara. Menurut pasal 33 ayat 1 (Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan)
Tujuan memperkarakan suatu sengketa: 
1.       adalah untuk menyelesaikan masalah yang konkret dan memuaskan,    
 2.     dan pemecahannya harus cepat (quickly), wajar (fairly) dan murah (inexpensive)

Cara-cara Penyelesaian Sengketa diantaranya :
 Negosiasi (Perundingan)
Perundingan merupakan pertukaran pandangan dan usul-usul antara dua pihak untuk menyelesaikan suatu persengketaan, tidak melibatkan pihak ketiga, dan diantara keduanya tidak ada lagi berselisih paham setelah mendapatkan keputusan penyelesaian sengketanya, serta keduanya saling menerima kesepakatan yang diambil tanpa ada paksaan dari pihak manapun, dimana keduanya tidak ada yang merasa dirugikan.

Mediasi

Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. Sesuai dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau konsensus, maka tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi berlangsung. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak.

Arbitrase

Arbitrase adalah sebagai salah pranata penyelesaian sengketa (disputes) perdata (pivate) diluar pengadilan (non-litigation) dengan dibantu oleh seorang atau beberapa orang pihak ketiga (arbiter) yang bersifat netral yang diberi kewenangan untuk membantu para pihak menyelesaikan sengketa yang sedang mereka hadapi.


Perbandingan Antara Perundingan, Arbitrase dan Ligitasi
Untuk Perundingan:
     1. yang mengatur ialah para pihak itu sendiri
     2. prosedurnya informal
     3. jangka waktunyan 3-6 minggu
     4. biayanya murah
     5. aturan pembuktianya tidak perlu

Untuk Arbitrasi
    1. yang mengatur ialah arbiter
    2. prosedurnya agak formal sesuai dengan rule
    3. jangka waktunya agak cepat
    4. biayanya terkadang sangat mahal
    5. pembktianya agak formal

Untuk Ligitasi
   1. yang mengatur ialah hakim
   2. prosedurnya sangat formal
   3. jangka waktunya lama
   4. biayanya sangat mahal
   5. pembuktianya sangat formal


    Sumber :
      http://www.pn-labuha.go.id/index.php/layanan-publik/mediasi/pengertian-mediasi
      http://penebar-swadaya.net/blog/pengertian-arbitrase/
      http://muhamadfauzan91.blogspot.com/2011/04/pengertian-sengketa.html   
      http://juwita-art.blogspot.com/2013/03/pengertian-sengketa-internasional.html
      http://yuarta.blogspot.com/2011/03/cara-cara-penyelesaian-sengketa.html

ANTI MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

Pengertian
Menurut UU nomor 5 tahun 1999 pasal 1 butir 1 UU Antimonopoli, Monopoli adalah penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau atas penggunaan  jasa tertentu oleh suatu pelaku usaha atau suatu kelompok usaha. Persaingan usaha tidak sehat (curang) adalah suatu persaingan antara pelakuusaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa dilakukan dengan cara melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
Dalam UU nomor 5 tahun 1999 pasal 1 butir 6 UU Antimonopoli,’Persaingan curang (tidak sehat ) adalah persaingan antara pelaku usaha dalam menjalankan kegiatanproduksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha’.
Asas dan Tujuan Antimonopoli dan Persaingan Usaha
Asas

Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum.

Tujuan

Undang-Undang (UU) persaingan usaha adalah Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No.5/1999) yang bertujuan untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh kesepakatan dan konspirasi yang cenderung mengurangi dan atau menghilangkan persaingan. Kepedulian utama dari UU persaingan usaha adalah promoting competition dan memperkuat kedaulatan konsumen.
 Kegiatan yang dilarang dalam anti monopoli
 Dalam UU No.5/1999,kegiatan yang dilarang diatur dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. Undang undang ini tidak memberikan defenisi kegiatan,seperti halnya perjanjian. Namun demikian, dari kata “kegiatan” kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan disini adalah aktivitas,tindakan secara sepihak. Bila dalam perjanjian yang dilarang merupakan perbuatan hukum dua pihak maka dalam kegiatan yang dilarang adalah merupakan perbuatan hukum sepihak.
 Adapun kegiatan kegiatan yang dilarang tersebut yaitu :
1)      Monopoli
Adalah penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
2)      Monopsoni
Adalah situasi pasar dimana hanya ada satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang menguasai pangsa pasar yang besar yang bertindak sebagai pembeli tunggal,sementara pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang bertindak sebagai penjual jumlahnya banyak.
3)      Penguasaan pasar
Di dalam UU no.5/1999 Pasal 19,bahwa kegiatan yang dilarang dilakukan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya penguasaan pasar yang merupakan praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat yaitu :
a. menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang bersangkutan;
b. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya;
c. membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa pada pasar bersangkutan;
d. melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.
4)      Persekongkolan
Adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol (pasal 1 angka 8 UU No.5/1999).
5)      Posisi Dominan
Artinya pengaruhnya sangat kuat, dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 menyebutkan posisi dominan merupakan suatu keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa yang dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan, penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan dan permintaan barang atau jasa tertentu.
6)      Jabatan Rangkap
Dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dikatakan bahwa seorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari suatu perusahaan, pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi atau komisaris pada perusahaan lain.
7)      Pemilikan Saham
Berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dikatakan bahwa pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis, melakukan kegiatan usaha dalam bidang sama pada saat bersangkutan yang sama atau mendirikan beberapa perusahaan yang sama.
8)      Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan
Dalam Pasal 28 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, mengatakan bahwa pelaku usaha yang berbadan hukum maupun yang bukan berbadan hukum yang menjalankan perusahaan bersifat tetap dan terus menerus dengan tujuan mencari keuntungan.
Perjanjian yang dilarang dalam Antimonopoli dan Persaingan Usaha
Perjanjian yang dilarang dalam UU No.5/1999 tersebut adalah perjanjian dalam bentuk sebagai berikut :
1.     Oligopoli
2.    Penetapan harga
3.    Pembagian wilayah
4.    Pemboikotan
5.    Kartel
6.    Trust
7.    Oligopsoni
8.    Integrasi vertikal
9.    Perjanjian tertutup
10. Perjanjian dengan pihak luar negeri
Hal-hal yang Dikecualikan dalam UU Anti Monopoli 
Hal-hal yang dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli adalah sebagai berikut :
1. Perjanjian-perjanjian tertentu yang berdampak tidak baik untuk persaingan pasar, yang terdiri dari:

(a) Oligopoli
(b) Penetapan harga
(c) Pembagian wilayah
(d) Pemboikotan
(e) Kartel
(f) Trust
(g) Oligopsoni
(h) Integrasi vertical
(i) Perjanjian tertutup
(j) Perjanjian dengan pihak luar negeri
2. Kegiatan-kegiatan tertentu yang berdampak tidak baik untuk persaingan pasar, yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
(a) Monopoli
(b) Monopsoni
(c) Penguasaan pasar
(d) Persekongkolan
3. Posisi dominan, yang meliputi :
(a) Pencegahan konsumen untuk memperoleh barang atau jasa yang bersaing
(b) Pembatasan pasar dan pengembangan teknologi
(c) Menghambat pesaing untuk bisa masuk pasar
(d) Jabatan rangkap
(e) Pemilikan saham
(f) Merger, akuisisi, konsolidasi
Komisi Pengawasan Persaingan Usaha 
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. 
Sanksi dalam Antimonopoli dan Persaingan Usaha  
Pasal 36 UU Anti Monopoli, salah satu wewenang KPPU adalah melakukan penelitian, penyelidikan dan menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai ada tidaknya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Masih di pasal yang sama, KPPU juga berwenang menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar UU Anti Monopoli. Apa saja yang termasuk dalam sanksi administratif diatur dalam Pasal 47 Ayat (2) UU Anti Monopoli. Meski KPPU hanya diberikan kewenangan menjatuhkan sanksi administratif, UU Anti Monopoli juga mengatur mengenai sanksi pidana. Pasal 48 menyebutkan mengenai pidana pokok. Sementara pidana tambahan dijelaskan dalam Pasal 49.
sumber :
http://naufalalfatih.wordpress.com/2012/10/10/anti-monopoli-dan-persaingan-tidak-sehat/ 
http://gabrielsebastian100.blogspot.com/2013/07/anti-monopoli-dan-persaingan-usaha.html 
https://www.academia.edu/7231490/MAKALAH_ANTI_MONOPOLI_DAN_PERSAINGAN_CURANG_A